CallWA +62 8121488688 Emailtaufik@hidayat.co.id Facebook Google +

Puasa sunnah

Puasa sunnah menurut tuntunan Rasulullah SAW (1)

  1. Puasa enam hari di bulan Syawwal

عَنْ اَبِى اَيُّوْبَ اْلاَنْصَارِيّ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ اَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ. مسلم 2: 822

Dari Abu Ayyub Al-Anshariy, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa puasa Ramadlan lalu ia iringi dengan puasa enam hari dari Syawwal, adalah (pahalanya) itu seperti puasa setahun”. [HR. Muslim juz 2, hal. 822]

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُوْلِ اللهِ ص عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص اَنَّهُ قَالَ: مَنْ صَامَ سِتَّةَ اَيَّامٍ بَعْدَ اْلفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ مَنْ جَاءَ بِاْلحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ اَمْثَالِهَا. ابن ماجه 1: 547

Dari Tsauban bekas budak Rasulullah SAW dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Barangsiapa puasa enam hari sesudah Hari Raya ‘Iedul Fithri, adalah (serupa) sempurna setahun, (karena) barangsiapa mengerjakan kebaikan, maka ia mendapat pahala sepuluh kali ganda”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 547]

عَنْ ثَوْبَانَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: صِيَامُ شَهْرٍ بِعَشْرَةِ اَشْهُرٍ وَ سِتَّةِ اَيَّامٍ بَعْدَهُنَّ بِشَهْرَيْنِ فَذ?لِكَ تَمَامُ سَنَةٍ يَعْنِى شَهْرَ رَمَضَانَ وَ سِتَّةَ اَيَّامٍ بَعْدَهُ. الدارمى 2: 21

Dari Tsauban bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Puasa sebulan (Ramadlan) pahalanya sama dengan sepuluh bulan, dan enam hari sesudahnya pahalanya sama dengan dua bulan. Maka yang demikian itu (pahalanya) sama dengan puasa setahun penuh. Yakni bulan Ramadlan dan enam hari sesudahnya (Syawwal)”. [HR. Darimiy juz 2 hal. 21]

Keterangan :

  1. Nabi SAW menggembirakan ummatnya agar suka berpuasa enam hari di bulan Syawwal, dengan menyatakan bahwa orang yang berpuasa satu bulan dibulan Ramadlan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka pahalanya semisal dengan puasa setahun.

Pengertiannya demikian :

Puasa Ramadlan (yang biasanya 30 hari) pahalanya senilai berpuasa 300 hari, karena tiap-tiap satu hari mendapat pahala 10 kali lipat. Dan 6 hari di bulan Syawwal senilai dengan puasa 60 hari, sehingga semuanya berjumlah 360 hari atau sama dengan 1 tahun.

  1. Enam hari dalam bulan Syawwal itu tidak mesti harus berturut-turut yang dimulai dari tanggal 2 (tepat sehabis hari raya) sebagaimana yang biasa dikerjakan oleh ummat Islam pada umumnya. Karena tidak ada penjelasan yang tegas dari agama atau keterangan yang sharih (terang) dan shahih (kuat) dari agama. Dan kita tidak boleh membuat ketentuan sendiri dalam masalah ‘ibadah. Jadi, boleh dan tetap dipandang sempurna oleh syara’ bila kita mengerjakan berselang-seling maupun berturut-turut yang tidak dimulai tanggal 2 Syawwal (tepat sehabis hari raya), yang penting masih dalam bulan Syawwal. Kalaupun hendak mengerjakan tepat sehabis hari raya dengan berturut-turutpun tidak mengapa, asal tidak dengan keyakinan bahwa itulah cara yang paling sah yang dituntunkan oleh syara’.
  2. Hadits riwayat Muslim yang dijadikan dalil puasa Syawwal tersebut ada sebagian ‘ulama yang menganggap lemah, karena di dalam sanadnya ada rawi Sa’ad bin Sa’id bin Qais yang dicela oleh sebagian ulama ahli hadits. Namun sebagian ‘ulama ahli hadits yang lain berpendapat bahwa celanya Sa’ad bin Sa’id bin Qais tersebut tidak sampai menyebabkan hadits itu menjadi dlaif (lemah). Lagi pula hadits riwayat Muslim itu dikuatkan oleh dua hadits berikutnya yang diriwayatkan Ibnu Majah dan Darimiy dimana dalam sanadnya tidak terdapat rawi Sa’ad bin Sa’id bin Qais yang dipermasalahkan tersebut. Jadi hadits itu tetap bisa dipakai sebagai dalil. [Bagi yang ingin mengetahui identitas Sa’ad bin Sa’id bin Qais lebih lanjut silakan baca Tahdzibut-Tahdzib juz 3 hal. 408 no. 876, Mizanul I’tidal juz 2 hal. 120 no. 3109, Al-Jarhu wat Ta’dil juz 4 hal. 84 no. 370 dan Taqribut Tahdzib hal. 171 no. 2237]. Walloohu a’lam.
  3. Puasa ‘Arafah

عَنْ اَبِى قَتَادَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً وَصَوْمُ عَاشُوْرَاءَ يُكَفّرُ سَنَةً مَاضِيَةً. احمد 8: 261، رقم: 22598

Dari Abu Qatadah ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Puasa pada hari ‘Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) itu bisa menghapus dosa-dosa dua tahun, yaitu setahun yang lampau dan setahun yang akan datang. Dan puasa ‘Asyuraa’ (tanggal 10 Muharram) bisa menghapus dosa setahun yang lalu”. [HR. Ahmad juz 8, hal. 261, no. 22598].

Puasa ‘Arafah ini disyariatkan bagi orang-orang yang tidak sedang melakukan wukuf di Arafah, sebagaimana riwayat di bawah ini:

عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى اَبِى هُرَيْرَةَ فِى بَيْتِهِ فَسَأَلْتُهُ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ، فَقَالَ اَبُوْ هُرَيْرَةَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ. ابن ماجه 1: 551، رقم: 1732

Dari ‘Ikrimah, ia berkata : Saya pernah datang kepada Abu Hurairah di rumahnya, lalu saya bertanya kepadanya tentang puasa hari ‘Arafah di ‘Arafah, maka jawab Abu Hurairah, “Rasulullah SAW melarang puasa hari ‘Arafah di padang ‘Arafah’. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 551, no. 1732].

عَنْ عُمَيْرٍ مَوْلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ عَنْ اُمّ اْلفَضْلِ بِنْتِ الْح?رِثِ اَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِى صَوْمِ النَّبِيّ ص، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: هُوَ صَائِمٌ. وَ قَالَ بَعْضُهُمْ: لَيْسَ بِصَائِمٍ. فَاَرْسَلَتْ اِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَ هُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيْرِهِ فَشَرِبَهُ. البخارى 2: 248

Dari ‘Umair maula ‘Abdullah bin ‘Abbas, dari Ummul Fadhl binti Harits, bahwasanya orang-orang berbantah di sisinya pada hari ‘Arafah tentang puasanya Nabi SAW. Sebagian dari mereka berkata, “Beliau SAW berpuasa”. Dan sebagian lainnya berkata, “Beliau SAW tidak berpuasa”. Kemudian Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada Nabi SAW, pada waktu itu Nabi SAW sedang wuquf di atas untanya, lalu Nabi SAW meminumnya”. [HR. Bukhari juz 2, hal. 248]

  1. Puasa Tasu’a dan ‘Asyura’

Tasu’a ialah hari yang ke-9 dari bulan Muharram, sedang ‘Asyura’ adalah hari yang ke-10 dari bulan tersebut,

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: كَانَتْ قُرَيْشٌ تَصُوْمُ عَاشُوْرَاءَ فِى اْلجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَصُوْمُهُ. فَلَمَّا هَاجَرَ اِلَى الْمَدِيْنَةِ صَامَهُ وَاَمَرَ بِصِيَامِهِ. فَلَمَّا فُرِضَ شَهْرُ رَمَضَانَ، قَالَ: مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ. مسلم 2: 792

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Adalah kaum Quraisy berpuasa ‘Asyura’ pada masa jahiliyah dan Rasulullah SAW juga berpuasa. Maka setelah berhijrah ke Madinah, beliau tetap berpuasa ‘Asyura’ dan memerintahkan kepada para shahabat untuk berpuasa pada hari itu. Maka setelah diwajibkan puasa di bulan Ramadlan, lalu beliau bersabda, “Barangsiapa yang ingin berpuasa ‘Asyura’ silakan berpuasa, dan barangsiapa yang ingin meninggalkannya silakan tidak berpuasa”. [HR. Muslim juz 2, hal. 792]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض قَالَ : قَدِمَ رَسُوْلُ اللهِ ص الْمَدِيْنَةَ فَوَجَدَ اْليَهُوْدَ يَصُوْمُوْنَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، فَسُئِلُوْا عَنْ ذ?لِكَ، فَقَالُوْا: ه?ذَا اْليَوْمُ الَّذِيْ اَظْهَرَ اللهُ فِيْهِ مُوْسَى وَ بَنِيْ اِسْرَائِيْلَ عَلَى فِرْعَوْنَ، فَنَحْنُ نَصُوْمُهُ تَعْظِيْمًا لَهُ. فَقَالَ النَّبِيُّ ص: نَحْنُ اَوْلَى بِمُوْسَى مِنْكُمْ، فَاَمَرَ بِصَوْمِهِ. مسلم 2: 795

Dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata : Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa ‘Asyura’. Lalu mereka ditanya (Rasulullah SAW) tentang hal itu. Maka jawab mereka, “Hari ini adalah suatu hari yang Allah memberikan kemenangan kepada Nabi Musa dan Bani Israil atas Fir’aun, maka kami berpuasa pada hari ini untuk mengagungkannya”. Lalu Nabi SAW bersabda, “Kalau begitu kami lebih berhaq terhadap Nabi Musa daripada kalian”. Kemudian beliau memerintahkan untuk berpuasa ‘Asyura”. [HR. Muslim juz 2, hal. 795]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض قَالَ: حِيْنَ صَامَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَاَمَرَ بِصِيَامِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ اْليَهُوْدُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: فَاِذَا كَانَ اْلعَامُ الْمُقْبِلُ اِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا اْليَوْمَ التَّاسِعَ. قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ اْلعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفّيَ رَسُوْلُ اللهِ ص. مسلم 2: 798

Dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata : Ketika Rasulullah SAW berpuasa ‘Asyura’ (hari ke sepuluh bulan Muharram) dan beliau memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu, para shahabat berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah suatu hari yang diagung-agungkan oleh kaum Yahudi dan Nashara”, Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Jika aku masih hidup sampai tahun depan, insya Allah kami akan berpuasa Taasi’a (hari ke sembilan). Ibnu ‘Abbas berkata, “Ternyata belum sampai tahun berikutnya, beliau telah wafat”. [HR. Muslim juz 2, hal. 798].

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَيْرٍ (لَعَلَّهُ قَالَ: عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رض قَالَ): قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لَئِنْ بَقِيْتُ اِلىَ قَابِلٍ لَاَصُوْمَنَّ التَّاسِعَ. مسلم 2: 798

Dari ‘Abdullah bin ‘Umair (Barangkali ia mengatakan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas RA, ia berkata) : Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kalau aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku berpuasa hari ke-9 (bulan Muharram)”. [HR. Muslim juz 2, hal. 798]

عَنْ اَبِى سَعِيْدِ اْلخُدْرِيّ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ صَامَ يَوْمَ عَرَفَةَ غُفِرَ لَهُ سَنَةٌ اَمَامَهُ وَ سَنَةٌ خَلْفَهُ. وَ مَنْ صَامَ عَاشُوْرَاءَ غُفِرَ لَهُ سَنَةٌ. الطبرانى فى الاوسط باسناد حسن

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa ‘Arafah, diampuni baginya (dosanya) setahun yang lalu dan setahun berikutnya. Dan barangsiapa yang berpuasa ‘Asyura’, diampuni baginya (dosanya) satu tahun”. [HR. Thabarani, di dalam Al-Ausath dengan sanad hasan]

  1. Puasa Sya’ban

عَنْ عَائِشَةَ اُمّ الْمُؤْمِنِيْنَ رض اَنَّهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَصُوْمُ حَتَّى نَقُوْلَ لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُوْلَ لَا يَصُوْمُ. وَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص اِسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ اِلَّا رَمَضَانَ. وَمَا رَأَيْتُهُ فِى شَهْرٍ اَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِى شَعْبَانَ. مسلم 2: 810

Dari ‘Aisyah Ummul Mukminin RA, ia berkata, “Adalah Rasulullah SAW berpuasa, sehingga kami mengira seolah-olah beliau tidak pernah berbuka. Dan (apabila) beliau tidak berpuasa, kami mengira seolah-olah beliau tidak pernah berpuasa. Dan saya tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh melainkan di bulan Ramadlan, dan tidak pernah saya lihat beliau memperbanyak puasa pada bulan lain seperti bulan Sya’ban”. [HR. Muslim juz 2, hal. 810]

Keterangan :

Puasa dalam bulan Sya’ban ini tidak ada ketentuan jumlah hari dan tanggal-tanggalnya, hanya yang biasa dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah kurang dari satu bulan. Tegasnya tidak satu bulan penuh.

  1. Puasa Senin dan Kamis

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ ص يَتَحَرَّى صَوْمَ اْلاِثْنَيْنِ وَاْلخَمِيْسِ. الترمذى 2: 124، رقم: 742، و حسنه

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu Nabi SAW biasa mementingkan puasa Senin dan Kamis”. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 124, no. 742, dan Tirmidzi menghasankannya]

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ اَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ: اِنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ اْلاِثْنَيْنِ وَ الْخَمِيْسِ. النسائى 4: 202

Dari Jubair bin Nufair bahwasanya ‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya dahulu Rasulullah SAW biasa mementingkan puasa Senin dan Kamis”. [HR. Nasaiy juz 4, hal. 202]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: تُعْرَضُ اْلاَعْمَالُ يَوْمَ اْلاِثْنَيْنِ وَ الْخَمِيْسِ، فَاُحِبُّ اَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَ اَنَا صَائِمٌ. الترمذى 2: 124، رقم: 744، و حسنه

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Amal-amal ditampakkan (dilaporkan) pada hari Senin dan Kamis. Maka aku senang manakala amalku ditampakkan sedang aku berpuasa”. [HR Tirmidzi juz 2, hal. 124, no. 744, dan Tirmidzi menghasankannya]

عَنْ اَبِى قَتَادَةَ اْلاَنْصَارِىّ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ اْلاِثْنَيْنِ، فَقَالَ: فِيْهِ وُلِدْتُ وَ فِيْهِ وَ اُنْزِلَ عَلَيَّ. مسلم 2: 820

Dari Abu Qatadah Al-Anshariy RA bahwasanya Rasulullah SAW ditanya tentang berpuasa di hari Senin. Maka beliau bersabda, “(Hari Senin) adalah hari kelahiranku dan hari diturunkannya wahyu kepadaku”. [HR. Muslim juz 2, hal. 820]

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *